Megahnya "Rest Area" KM 260B, Menelusuri Jejak Sejarah Pabrik Gula

June 10, 2019

JAKARTA, News - Saat melintas di Jalan Tol Trans-Jawa, sempatkan mengunjungi Rest Area KM 260B Heritage-Banjaratma tepatnya di ruas Tol Pejagan-Pemalang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah untuk melepas penat.

Selain unik, tempat istirahat dan pelayanan (TIP) ini dirancang dengan konsep berbeda dari rest area lain pada umumnya.

Direktur Utama PT PP Sinergi Banjaratma, Rachmat Priyatna mengungkapkan, bangunan ini dulunya merupakan bekas Pabrik Gula Banjaratma yang didirikan oleh perusahaan perkebunan yang berpusat di Amsterdam, Belanda, NV Cultuurmaatschappij pada 1908.

Pabrik itu berada di Desa Banjaratma atau sekitar 5 kilometer di sebelah barat Kota Brebes dan mulai beroperasi pada 1913.

Rachmat mengatakan, setelah puluhan tahun beroperasi, produksi pabrik mulai menurun dan terpaksa tutup.

"Ini program dari Kementerian BUMN dalam rangka memberdayakan aset-aset BUMN yang tidak produktif. Kebetulan eks Pabrik Gula Banjaratma ini kurang lebih sudah berhenti (beroperasi) selama 20 tahun," ucap Rachmat kepada News, Senin (10/6/2019).

Rachmat menuturkan, pembangunan rest area melibatkan beberapa konsorsium yang terdiri dari PT Waskita Toll Road, PT Rajawali Nusantara Indonesia, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT PP Properti, PT Jasamarga Properti, dan PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN).

Kompleks seluas 10,6 hektar ini pun dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp 124 miliar. Sedangkan bangunan utama memiliki luas 1,4 hektar.

Secara keseluruhan, kompleks tempat peristirahatan itu dirancang oleh firma D-Associates dan selesai pada Maret 2019.

"Konsepnya berbeda dengan rest area lainnya, tidak hanya menyediakan tempat istirahat atau tempat kuliner dan fasilitas misalnya toilet dan masjid, tapi kami juga ada tempat untuk bersantai," ujar Rachmat.

Dia melanjutkan, selain mengaktifkan lagi aset-aset BUMN yang tidak produktif, pertimbangan untuk mengubahnya menjadi tempat peristirahatan karena keberadaan bangunan yang berada di Jalur Tol Trans-Jawa.

Mempertahankan konsep asli Pembangunan rest area dilakukan dengan mempertahankan bentuk asli fisik pabrik gula. Rachmat menuturkan, beberapa bagian bangunan tidak diubah, seperti dinding yang masih menggunakan bata asli.

Meski begitu ada beberapa penambahan yang dilakukan seperti konstruksi baja untuk memperkuat struktur bangunan dan menambal bata yang sudah keropos.

"Ini merupakan TIP yang heritage karena kami masih mempertahankan bangunan asli dari eks pabrik gula. Hanya ada beberapa (perombakan) yang memang secara teknis sudah tidak layak, kami perbaiki," tutur dia.

Di dalam bangunan utama pabrik, pengunjung dapat menikmati suasana klasik sekaligus bersantai sembari menunggu perjalanan.

Bahkan pengelola masih mempertahankan dua buah mesin penggilingan tebu serta lokomotif bekas penarik bahan baku untuk membuat tampilan rest area menjadi lebih artistik.

"Unsur-unsur heritage banyak disukai. Kami pun juga menambahkan lokomotif bekas penarik tebu yang sempat kami mintakan ke PTPN IX, jadi ditaruh di sana dan menjadi salah satu spot tempat orang berfoto," terang Rachmat.

Tak hanya itu, pengelola juga menambahkan lain seperti air mancur menari yang beroperasi pada waktu-waktu tertentu.

Fasilitas penunjang Adapun fasilitas yang diberikan antara lain masjid dan mushala, toilet berjumlah 67 buah, dan bangunan penunjang di belakang gedung utama.

Khusus untuk bangunan masjid dirancang dengan desain yang unik. Dinding masjid disusun dari bata merah dengan lubang untuk sirkulasi sehingga tidak membutuhkan pendingin ruangan tambahan.

"Kalau misalnya di pagi hari, salah satu dinding cahaya masuk dari situ, kemudian jatuh ke lantai dan membentuk kotak-kotak cahaya," terang Rachmat.

Kemudian ada pula Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) dengan 10 dispenser untuk berbagai jenis Bahan Bakar Minyak (BBM).

Selain itu, kompleks rest area ini dapat menampung kurang lebih 300 kendaraan kecil serta terdapat 30 lot untuk parkir kendaraan besar.

Selama arus mudik dan balik Lebaran 2019, tempat peristirahatan ini sudah beroperasi penuh dan dibuka selama 24 jam.

Rachmat menuturkan, pengelola menyediakan 120 lot untuk tenant usaha mikro dan kecil (UMK) yang sudah terisi penuh dan 20 lot untuk penyewa non-UMK. 

Rachmat menuturkan, tak hanya sebagai tempat istirahat, rest area KM 260B Banjaratma pun dapat menjadi destinasi wisata.

"Jadi sebagai destinasi juga. Ke depan kami juga akan mengadakan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di sini sehingga ini menjadi feeder bagi para tenant yang ada di sana," pungkas Rachmat. 


Related Articles